Contoh kasus teori cognitive dan teori behavioristik

-Teori cognitive : Seorang guru yang mengajarkan  perkalian dan murid tersebut bisa dengan lancar berhitung perkalian itu berarti sudah ada perkembangan murid dari pembelajaran guru tersebut.

-Teori behavioristik: Seorang guru yang mengajarkan muridnya perkalian tetapi murid tersebut belum dapat berhitung perkalian ini berarti belum ada perkembangan dari murid tersebut .

Paradigma Psikologi Kepribadian Cognitive dan Behavioristic

-Pengertian Paradigma

Istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Kuhn (1962), dan kemudian dipopulerkan oleh Robert Friedrichs (1970). Menurut Kuhn, paradigma adalah cara mengetahui realitas sosial yang dikonstruksi oleh mode of thought atau mode of inquiry tertentu, yang kemudian menghasilkan mode of knowing yang spesifik.

Definisi tersebut dipertegas oleh Friedrichs, sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari. Pengertian lain dikemukakan oleh George Ritzer (1980), dengan menyatakan paradigma sebagai pandangan yang mendasar dari para ilmuan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh salah satu cabang/disiplin ilmu pengetahuan.

-Pengertian Psikologi

Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya.

Psikologi Kepribadian adalah ilmu yang mencakup upaya sistematis untuk mengungkapkan dan menjelaskan pola teratur dalam fikiran, perasaan dan perilaku nyata seseorang yang mempengaruhi kehidupan sehari – harinya .

-Pengertian Psikologi Kepribadian

Psikologi kepribadian sebenarnya bukanlah barang baru, tapi seudah sering diusahakan oleh para ahli namun dengan istilah yang berberda. Seperti, characterologie, the science od character, psychology of character, theory of personality, daln lain-lain. Kalau  orang telah memilih istilah kepribadian, selanjutnya masih perlu ditunjukkan, bahwa istilah psikologikepribadian lebih tepat daripada istilah teori kepribadian karena orang yang mempersoalkan kepribadian itu dalam arti psikologis.

Psikologi kepribadian merupakan pengetahuan ilmiah. Sebagai pengetahuan ilmiah, psikologi kepribadian menggunakan konsep-konsep dan metoda-metoda yang terbuka bagi pengujian empiris. Penggunaan konsep-konsep dan metoda-metoda ilmiah dimaksudkan agar psikologi kepribadian bisa mencapai sasarannya, yaitu : pertama, memperoleh informasi mengenai tingkah laku manusia dan kedua, mendorong individu-individu agar bisa hidup secara penuh dan memuaskan.

Usaha untuk memperoleh pemahaman mengenai perilaku manusia bukan hanya dimaksudkan untuk melampiaskan hasrat ingin tahu saja tetapi juga diharapkan bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup manusia. Pengetahuan mengenai perilaku individu-individu beserta faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku tersebut hendaknya dapat dimanfaatkan dalam kegiatan terapan atau praktik seperti psikoterapi dan program-program bimbingan, latihan dan belajar yang efektif, juga melalui perubahan lingkungan psikologis sedemikian rupa agar individu-individu itu mampu mengembangkan segenap potensi yang dimiliki secara optimal.

Psikologi kepribadian, sama halnya dengan cabang-cabang lainnya dari psikologi, memberikan sumbangan yang berharga bagi pemahaman tentang manusia melalui kerangka kerja psikologi secara ilmiah. Yang membedakan psikologi kepribadian dengan cabang-cabang lainnya adalah usahanya untum mensintesiskan dan mengintegrasikan prinsip-prinsip yang terdapat dalam bidang-bidang psikologi lain tersebut. Dalam bidang psikologi tidak ada satu bidangpun yang memiliki daerah yang demikian luas seperti psikologi kepribadian.

-Paradigma kepribadian psikologi behavioristik

*Psikologi aliran behavioristik mulai mengalami pengembangan dengan lahirnya teori-teori tentang belajar dipelopori oleh Thorndike, Pavlov, Watson, dan Gunthrie. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikakan oleh ganjaran atau penguatan dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang sangat erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulasintya.
Para guru sekolah yang menganut pandangan ini berpendapat bahwa tingkah laku murid-murid merupakan reaksi-reaksi terhadap lingkungan mereka pada masa lalu dan masa sekarang, dan bahwa semua tingkah laku adalah hasil belajar. Kita dapat menganalisa kejadian tingkah laku dengan jalan mempelajari latar belakang penguatan pada tingkah laku tersebut.

*Paradigma behavioristik memandang pengetahuan adalah objektif, pasti, tetap, dan terstruktur rapih, belajar adalah pemerolehan pengetahuan, mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) dan diharapkan pengetahuan atau pemahaman siswa sama dengan pengetahuan atau pemahaman gurunya. Sementara paradigma konstruktivistik memandang bahwa pengetahuan adalah non-objektif, bersifat temporer, berubah dan tidak menentu, belajar dimaknai menyusun pengetahuan dari pengalaman konkrit, reflektif dan interpretatif, mengajar adalah menata lingkungan agar siswa termotivasi dalam menggali makna dan menghargai ketidak menentuan. Pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalaman, prespektif dan interpretasi belajar.

Paradigma behavioristik memandang bahwa segala sesuatu di dunia nyata telah terstruktur rapih dan teratur. Orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan yang jelas dan ditetapkan dengan ketat. Pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakkan disiplin. Ketidakmampuan dalam menambah pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, sebaliknya keberhasilan sebagai perilaku yang pantas mendapat hadiah, taat pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar, dan kontrol belajar dipegang oleh sistem yang berada di luar diri si belajar. Sementara paradigma konstruktivistik memandang bahwa belajar harus bebas. Hanya di alam dan suasana kebebasan peserta didik dapat mengungkapkan makna sebagai hasil dari interprestasinya terhadap segala sesuatu yang ada di dunia nyata. Kebebasan menjadi unsur yang esensial dan penentu keberhasilan belajar, dan siswa adalah subjek yang mampu menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar, serta kontrol belajar dipegang oleh siswa.

-Paradigma Psikologi Kepribadian Kognitif

Psikologi kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar “Gestalt”. Peletak dasar teori ini adalah Max Wertheimer (1880-1943) di Austria yang meneliti tentang pengaamatan dan problem solving. Sumbangan ini diikuti oleh Kurt Koffka (1886-1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan; kemudian Wolfgang Kohler (1887-1959) yang meneliti tentang “insight’ pada simpanse.
Kaum gestaltis berpendapat bahwa pengalaman itu berstruktur yang terbentuk dalam satu keseluuhan. Orang yang belajar, mengamati stimulus dalam keseluruhan yang terorganisir, bukan dalam bagian-bagian yang terpisah. Dalam situasi belajar, seseorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh “Insight” untuk pemecahan masalah. Suatu konsep yang penting dalam psikologi gestalt adalah tentang “insight”, yaitu pengamatan atau pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian di dalam situasi pemasalahan.

Desmita. 2008 . Psikologi perkembangan . Bandung: PT Remaja rosdakarya

Koeswara, E. 2001 .Teori-teori Kepribadian. Bandung ;Eresco.

Purwanto,Ngalim.1990. Psikologi Pendidikan. Remaja Rosdakarya Bandung